Langsung ke konten utama

Teruntuk Engkau Para Pencari Kebahagiaan


Kita hidup memiliki sebuah tujuan kesuksesan dengan bermacam2 indikatornya. Tak lain pada umumnya adalah sebuah nilai kuliah yang baik, prestasi yang tinggi, kedudukan atau jabatan yang luhur, pekerjaan yang bergaji besar. 

Pernah ku mencoba untuk menelaah kedalam mengenai segala ambisi dalam hidup ini, bahwasannya ada satu hal yang saya coba untuk mengartikan arti hidup di dunia yang sementara ini.

 Kita dituntut untuk selalu bekerja keras demi tercapainya suatu capaian kebanggan. Namun disisi lain, apabila kita tinjau dengan akal yang bijak, dalam semua proses diatas suatu saat ada fase dimana kita semua akan Lelah. Lelah? Ya, kita lelah dan mulai sadar bahwa semua yang kita capai hanyalah semu dan hanyalah bayangan serta buayan belaka. Sebuah fatamorgana ambisi yang pada akhirnya kita membuat kita berhenti sejanak seakan2 kita bingung akan melangkah kemana lagi.

Dalam fase lelah itu, kita sadar bahwa bukankah selama ini ketika kita mengejar nilai, kedudukan, kesuksesan, kekayaan, dsb. Itu semua hanyalah tipuan belaka. Ironisnya, kita telah berani untuk mengorbankan tali silaturahmi, persahabatan, saling menjatuhkan, mengabaikan sebuah cinta, menghardik orang-orang miskin, melupakan orang tua dan keluarga, dan bahkan kita lupa diri bahwa kita hanyalah manusia yang diatur segala sesuatunya oleh Allah.

Hal terbaik di hidup ini adalah bagaimana caranya kita beribadah, bertahan hidup dan selalu menebar kebermanfaatan sesama.

Lantas kesimpulannya adalah apa gunanya kita bersusah-susah untuk mengejar sebuah kedudukan dimata orang lain apabila kita harus kehilangan persahabatan,menjatuhkan orang lain san malah menyiksa diri kita akan beratnya ketika mengemban amanah.

Apa gunanya kita mencari harta kekayaan yang banyak dan berlimpah apabila pada akhirnya kekayaan itu membuat kita melupakan orang miskin dan membuat kita tidak pandai bersyukur, merasa sombong dll. Apalah gunanya kita mencari seseorang yang sempurna untuk dijadikan pasangan apabila pada akhirnya kita saling menjelek2an dia dikemudian hari.

“Hanya berusaha sesuai apa yang kita bisa. Syukuri apa yang ada, sederhana saja, buat hidup selalu bahagia dan tetap rendah hati”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terima Kasih “Ibu”

Mamah..             Ibuku adalah seorang perempuan keturunan batak, ia lahir di Medan dan marganya adalah Harahap, seorang wanita yang berjiwa keras namun cerdas. Kulitnya putih, tubuhnya pendek, ia wanita tercantik yang ada di dunia ini. Namanya adalah Yuniarti Harahap, Ia juga merupakan keturunan pahlawan dari ayahnya yang merupakan seorang pahlawan era 80an yang bertugas menjadi TNI AD berpangkat Letnan dan seorang Jaksa di Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Ibuku begitu baik, ia menyayangi orang-orang miskin, dermawan, ramah dan berwawasan luas.             Teruntuk ibu ku, ibu yang mengandung dan melahirkanku.. Telah kau korbankan segala hidup dan matimu hanya demi merawat anak-anakmu. Kau diciptakan dengan segala kemuliaan atas jasamu yang tak akan pernah terbalaskan. Betapa sulitnya menceritakan dirimu yang begitu mulia.       ...

Pesan Singkat Untuk Ayahanda

Namaku Abizar Ghazali Panjinagara, biasa dipanggil Abi, seorang pria berbadan tegap dan berambut ikal. Aku dilahirkan dari pasangan Hendi Dedi dan Yuniarti Harahap. Kini usiaku beranjak dewasa, umurku 18 tahun, salahsatu mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Padjadjaran. Aku gemar berolahraga, menulis dan bermusik. Aku masih sama seperti mahasiswa lainya, yang suka gabut alias gak ada kerjaan di hari libur, yang kerjaanya cuman minta uang ke orangtua untuk have fun, yang bisanya nyusahin orangtua dalam hal apapun. Tapi hari ini, entah kenapa rasanya rindu sekali dengan orangtua di rumah. Teringat dengan senyumanya yang tulus, pepatahnya yang bijak, kasihsayangnya yang abadi dan pengorbanannya yang besar. Tulisan ini aku buat untuk Ayahku tercinta. Seorang pemimpin keluarga yang bijak, sabar dan berwibawa. Ayahku seorang yang sederhana, seorang mantan perwira TNI AD yang gagah, seorang Insinyur perminyakan yang pintar, seorang Pendekar pencak silat yang terkemuka di Jawa Ba...

Keadilan Bagi “Separuh” Rakyat Indonesia

Pemerintah telah mengusahakan berbagai program terkait pemecahan permasalahan kenegaraan yang menyangkut kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah program penertiban kota seperti program penggusuran pedagang kaki lima (PKL). Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pada pelaksanaanya upaya-upaya tersebut belum dapat dirasakan bermanfaat oleh masyarakat yang mengalami hal tersebut. Sungguh menjadi suatu ironi, ketika upaya-upaya tersebut malah menimbulkan berbagai permasalahan baru bagi Negara. Pada fakta seperti ini, kebanyakan masyarakat yang mengalami penggusuran cenderung memilih untuk diam karena kebanyakan dari mereka berfikir bahwa pemerintah adalah penguasa yang “mutlak” dan tidak pernah mau untuk mendengar apalagi memperhatikan latar belakang keadaan mereka. Dasar Negara kita adalah Pancasila, dimana Pancasila dimaknai sebagai pedoman dalam hidup berkewarganegaraan. Artinya, segala tingkah laku kita sebagai warga negara haruslah sesuai dengan nilai-nilai pancasila....