Ibuku adalah seorang perempuan
keturunan batak, ia lahir di Medan dan marganya adalah Harahap, seorang wanita
yang berjiwa keras namun cerdas. Kulitnya putih, tubuhnya pendek, ia wanita
tercantik yang ada di dunia ini. Namanya adalah Yuniarti Harahap, Ia juga
merupakan keturunan pahlawan dari ayahnya yang merupakan seorang pahlawan era
80an yang bertugas menjadi TNI AD berpangkat Letnan dan seorang Jaksa di
Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Ibuku begitu baik, ia menyayangi orang-orang
miskin, dermawan, ramah dan berwawasan luas.
Teruntuk ibu ku, ibu yang mengandung
dan melahirkanku.. Telah kau korbankan segala hidup dan matimu hanya demi
merawat anak-anakmu. Kau diciptakan dengan segala kemuliaan atas jasamu yang
tak akan pernah terbalaskan. Betapa sulitnya menceritakan dirimu yang begitu
mulia.
Pada waktu itu, Di tengah malam kau
bangun atas suara tangisanku, kau sabar dan kau tenangkanku atas tangisanku. Di
pagi hari kau mandikan aku agar aku bersih dan kau sisir rambutku agar aku
rapih, Di siang hari kau suapi ku makanan agar laparku berubah menjadi kenyang,
Di malam hari kau susui aku dengan segala kesabaranmu. Kau banggakan aku
didepan teman-temanmu. Senyumu yang manis, Pelukanmu yang hangat, Pepatahmu
yang bijak, selalu mengiringi dimana pun aku berada. Kau hanya memberi dan tak
ada harapan untuk dibalas. Kesabaranmu begitu besar, aku tahu itu.
Sekilas teringat masa-masa kecilku,
begitu manjanya diriku ini kepada mu Mah. Tak kuasa aku menangis ketika
mengingat kenangan ini. Suatu itu aku duduk dibangku TK Mutiara, Duri. Pada
pagi hari yang cerah kau antarkan aku ke sekolah, Kau temani aku hingga aku
masuk kelas dan kau berjanji bahwa “Bi, Mamah nunggu di luar ya”. Lalu dengan
diam-diam kau tinggalkan aku karena pekerjaan rumahmu. Aku tersadar ketika aku
keluar kelas dan melihatmu tiada di teras itu, ketika itu aku mencari kemana
dirimu yang berjanji menunggu di teras sekolah. Aku merengek menangis di depan
teman-teman dan guru ku. Ku tanya kepada mereka “Mana Mamah? Mana Mamah?”. Aku
sadar, bahwa hati ini menyatu dengan batin mu. Pada hakikatnya kita tidak bisa
lepas dari seorang Ibu. Naluri dasar kita ada bersama Ibu. Aku tahu, bahwa kita
semua tidak bisa hidup tanpa Ibu.
Hal yang paling ku benci adalah
ketika aku bertambah umur dan itu mengartikan bahwa kau pun bertambah umur.
Kini badanmu mulai kurus, Kulitmu mulai keriput, Ingatanmu mulai melemah, tak
sanggup aku melihatnya. Ibu.. Aku tau akan segala kesedihanmu, yang bisa ku
panjatkan hanyalah do’a agar Allah selalu memberikanmu kekuatan, kesabaran, dan
keselamatan di dunia mau pun di akhirat. Do’a agar engkau disayangi oleh Allah
sebagaimana engkau telah menyayangiku diwaktu ku kecil.
Kembali ku mengingat mu, pada saat
itu apapun keiinginanku selalu kau turuti, apapun keluhanku selalu kau
dengarkan. Aku rasa kaulah satu-satunya wanita yang mencintaiku dengan tulus di
dunia ini. Terimakasih Ibu atas pengorbananmu, kesabaranmu, kasih sayangmu,
do’a yang baik. Maafkan aku yang belum bisa membalas segala kebaikanmu. Aku
masih sering menyakitimu dengan perkataanku, sering melawan segala nasihatmu,
tak mengerti keiinginanmu, aku belum bisa menjadi anak yang baik seperti yang
kau doakan selepas shalat mu.
"Aku berjanji, akan membahagiakanmu sebelum kau tutup kedua matamu. Akan ku dedikasikan dan ku persembahkan suatu pencapaian hidupku untuk mu."
Komentar
Posting Komentar