Langsung ke konten utama

Sadar dan Kembali


Waktu menunjukan pukul 03.30 pagi, hari ini adalah 1 hari menjelang datangnya bulan ramadhan, suasana kebahagiaan pun terasa.. Mengawali Ramadhan kali ini nampaknya saya tidak lagi munggahan di Garut, melainkan di rumah kakak saya. .Ada hal yang ingin saya tulis pada kali ini, dimana suatu perasaan yang cukup lama terpendam..

Semua insan manusia tentu pernah melakukan hal yang buruk, kita pasti pernah melakukan kesalahan yang berat, dan tentu penyesalan yang berat itu datang pula.. Terkadang, ketika merasa menyesal, kita pasti merasa bahwa kita adalah manusia yang bodoh dan hina. Aku pun sempat merasakan putus asa dari Rahmat Allah, karena sangat merasa hina dan terkadang kita merasa pula bahwa kesempatan untuk berbuat baik itu akan sia-sia karena seolah-olah pintu taubat telah tertutup..

Selain itu, ketika kita merasa menyesal, seolah-olah hal buruk yang pernah kita lakukan hanya terjadi pada diri kita sendiri. Sehingga membuat kita minder yang berlebihan, membuat stress sendiri tanpa sebuah perubahan..

Ketika itu pula kata “Waktu” seakan sangatlah berharga, andaikan ada sebuah mesin pemutar waktu, pasti kita inginkan kesempatan kembali memperbaiki suatu keburukan yang telah terjadi.. Namun apalah gunanya menyesal kawan, hidup selalu dituntut untuk melihat ke depan dan bercermin ke belakang..


Secara filosofis, memang susah dalam memikirkan mengapa Allah menciptakan umur dan waktu di dunia ini, dan waktu itu selalu tehitung mulai dari detik hingga menit, hari hingga minggu, bulan dan tahun.. Hal yang telah terjadi dianggaplah sebagai sejarah yang artinya merupakan sebuah peristiwa atau serangkaian kejadian pada masa lalu, sedangkan yang akan datang dikatakanlah sebagai masa depan.

Namun, ternyata semua sangkaanku itu salah besar, ternyata Allah sangatlah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Kalian bisa bayangkan, ketika kita melakukan kesalahan, kita masih diberi kebahagiaan dan kenikmatan untuk bernafas, untuk makan, untuk melakukan hal lainnya. Padahal jika ditnjau secara ilmu kemanusiaan, dimana ketika seorang A melakukan sedikit saja kesalahn kepada si B, pasti B akan marah dan tidak mau lagi peduli kepada si A.


Ya itulah manusia sekarang.. Manusia adalah pangkal dari segala perbuatan buruk, jika buruk ia lebih hina daripada hewan dan setan, namun jika baik ia lebih mulia daripada malaikat. Tak ada Manusia di zaman sekarang ini yang sempurna, semua pasti pernah melakukan kesalahan.


Tapi begini teman-teman, berdasarkan pengalamanku, memang penyesalan itu selalu ada dan teringat, bahkan kenyataandemikian membuat kita semakin takut tidak bisa melupakan kenangan buruk. Namun, tenanglah, kenangan buruk tidak akan pernah hilang karena Allah mungkin mempunyai rencana agar kita dapat selalu melakukan atau memohon Ampunan Nya. Bayangkan saja ketika kita tidak pernah lagi merasakan penyesalan atas keburukan kita di masa lalu, mungkin kita akan “lempeng”saja pada hari ini. Tidak ada yang sulit jika Allah menghendaki.


Masa lalu yang buruk jadikanlah batu loncatan kita untuk Taubat dan lebih dekat kepada Allah. “Sadarlah” akan keburukan kita, jujurlah akan siapa kita kalau bukanlah mahkluk yang hina. Yakinlah bahwa Allah selalu membuka pintu taubat, meskipun kita telah bertaubat lalu melakukan kesalahan lagi, segeralah bertaubat kembali. Hakikat bertaubat adalah “Kembali” kepada jalan yang benar yaitu jalan yang Allah ridhai.


Dahsyatna kenikmatan bertaubat sungguh luar biasa, ketenangan dan ketentraman batin, kebahagiaan yang akan Allah berikan, dan luar biasa rezeki yang berlimpah tentunya akan datang bersama diterimanya taubat kita. Sesungguhnya Allah sangat menyukai orang yang bertaubat, dan orang yang beriman adalah ketika ia melakukan kesalahan maka ia segera kembali kepada jalan Nya.


Lakukanlah taubat mulai dari penyesalan, perbaikan dan penetapan. Syukurilah kita masih diberikan umur dan kesehatan, Berusalah untuk tidak mengulanginya dengan sebuah kesadaran iman. Semoga kita senantiasa selamat di dunia maupun akhirat. Perbanyak amal kebaikan, dan berdamailah dengan masalalu agar datang kebahagiaan di hati kita.


“Kesalahan atau Kekhilafan manusia sangatlah besar, bahkan jika dibandingkan dengan buih lautan tentu masih banyak dosa kita. Jika dibandingkan dengan jumlah rumput yang ada di dunia pun masih banyak dosa kita, tak terhingga. Namun, percayalah bahwa ‘Pengampunan/Magfhirah’ dari Allah sangatlah luas dan tak terhingga”.

-Abizar Ghazali Panjinagara-















x

Komentar