Ku awali tulisan ini dengan renungan yang telah
lama terpendam di dalam kalbu..
Indah
sekali, di dalam kalbu ini terdapat berbagai ingatan yang telah Allah titipkan
sebagai modal dasar bagiku untuk berifikir.
Berfikir
bahwasannya kita semua ini memang mahkluk yang lemah dan tak bisa apa-apa.
Cenderung kurang bersyukur dan pandai mengeluh akan kekurangan..
Hal
yang terberat adalah ketika suatu harapan yang kita inginkan ternyata tidak
sesuai dengan apa yang Allah tetapkan. Memang berat, namun sebenarnya hal itu
adalah suatu kebaikan yang tak dapat dibandingkan.
Diantara
memori yang Allah titipkan itu adalah suatu ambisi dan kenangan yang menyatu
didalam cita-cita. Seperti ingatan tentang masa kuliah, keluarga, pengalaman
pribadi, percintaan, dll.
Kelemahan
manusia adalah ketika ia erbujuk dengan rayuan dunia yang fana, seperti aku
yang terkadang selalu terjebak pada suatu kebiasaan yang buruk. Banyak sekali,
dan jika diutarakan itu adalah aib. Maha Baik Allah yang selalu menutup aib
mahkluknya.
Penyesalan
merupakan bagian daripada ingatan yang terbesit di dalam kalbu, penyesalan
terkadang dapat menghapuskan kata yang sebenernya ingin kita ungkapkan baik
kepada kesalahan terhadap sesama manusia maupun kepada Allah. Penyesalan
terbungkus rapih dengan borgol keinginan untuk memutar waktu agar dapat kembali
kepada masa lalu. Padahal, hal itu hanya khalayan dan ilusi belaka karena
mustahil jika kita dapat mengulang waktu, sangat dilematis, ketika kita mulai
menyadari hal yang disia-siakan pada masa lampau itu baru terfikir pada saat
sekarang.
Ibarat
kita ingin berlari ke suatu tempat, namun kita hanya dapat berbaring di atas
kasur, hanya meratapi langit-langit yang terasa gelap walaupun pada kenyataanya
di langit-langit itu ada lampu yang menerangi. Yang seperti ini adalah suatu
penjara batin yang sangat menyakitkan.
Hampir
sekian lamanya ku pendam tentang hal ini, melampiaskan kepada keadaan sekitar
ku pikir adalah cara terbaik untuk melupakan rasa menyesal itu, namun ternyata
hal itu gagal. Aku tetap terpenjara dalam logika yang terkurung oleh dunia
khayal. Waktu terus berputar sementara aku hanya diam di atas kasur meratapi
bayang-bayang yang tak ada wujudnya, meratapi kamu namun tak ada raganya.
Saatnya
aku lepas dari penjara itu, dengan semangat terbarukan yang menggelorakan
semangat pagi ini, ku lihat lampu terang yang selama ini tak terhiraukan karena
gelapnya penjara penyesalan, ku tengok ke luar rumah dan ku sambut angin yang
segar pertanda banyak harapan yang akan ku bangun di luar sana. Selamat tinggal
pejara rimba yang membodohi ku selama ini, saatnya bangkit dari keterpurukan,
karena masa lalu hanya dapat menertawakanku disaat aku hanya berdiam dalam
penjara batin itu.
Hancurkan!
Bangkit! Lepas dan Bebas!
Bandung
27 Agustus 2017.
Komentar
Posting Komentar