Langsung ke konten utama

Saatnya Lepas dan Bangkit.


Ku awali tulisan ini dengan renungan yang telah lama terpendam di dalam kalbu..
Indah sekali, di dalam kalbu ini terdapat berbagai ingatan yang telah Allah titipkan sebagai modal dasar bagiku untuk berifikir.
Berfikir bahwasannya kita semua ini memang mahkluk yang lemah dan tak bisa apa-apa. Cenderung kurang bersyukur dan pandai mengeluh akan kekurangan..
Hal yang terberat adalah ketika suatu harapan yang kita inginkan ternyata tidak sesuai dengan apa yang Allah tetapkan. Memang berat, namun sebenarnya hal itu adalah suatu kebaikan yang tak dapat dibandingkan.

Diantara memori yang Allah titipkan itu adalah suatu ambisi dan kenangan yang menyatu didalam cita-cita. Seperti ingatan tentang masa kuliah, keluarga, pengalaman pribadi, percintaan, dll.

Kelemahan manusia adalah ketika ia erbujuk dengan rayuan dunia yang fana, seperti aku yang terkadang selalu terjebak pada suatu kebiasaan yang buruk. Banyak sekali, dan jika diutarakan itu adalah aib. Maha Baik Allah yang selalu menutup aib mahkluknya.

Penyesalan merupakan bagian daripada ingatan yang terbesit di dalam kalbu, penyesalan terkadang dapat menghapuskan kata yang sebenernya ingin kita ungkapkan baik kepada kesalahan terhadap sesama manusia maupun kepada Allah. Penyesalan terbungkus rapih dengan borgol keinginan untuk memutar waktu agar dapat kembali kepada masa lalu. Padahal, hal itu hanya khalayan dan ilusi belaka karena mustahil jika kita dapat mengulang waktu, sangat dilematis, ketika kita mulai menyadari hal yang disia-siakan pada masa lampau itu baru terfikir pada saat sekarang.

Ibarat kita ingin berlari ke suatu tempat, namun kita hanya dapat berbaring di atas kasur, hanya meratapi langit-langit yang terasa gelap walaupun pada kenyataanya di langit-langit itu ada lampu yang menerangi. Yang seperti ini adalah suatu penjara batin yang sangat menyakitkan.

Hampir sekian lamanya ku pendam tentang hal ini, melampiaskan kepada keadaan sekitar ku pikir adalah cara terbaik untuk melupakan rasa menyesal itu, namun ternyata hal itu gagal. Aku tetap terpenjara dalam logika yang terkurung oleh dunia khayal. Waktu terus berputar sementara aku hanya diam di atas kasur meratapi bayang-bayang yang tak ada wujudnya, meratapi kamu namun tak ada raganya.

Saatnya aku lepas dari penjara itu, dengan semangat terbarukan yang menggelorakan semangat pagi ini, ku lihat lampu terang yang selama ini tak terhiraukan karena gelapnya penjara penyesalan, ku tengok ke luar rumah dan ku sambut angin yang segar pertanda banyak harapan yang akan ku bangun di luar sana. Selamat tinggal pejara rimba yang membodohi ku selama ini, saatnya bangkit dari keterpurukan, karena masa lalu hanya dapat menertawakanku disaat aku hanya berdiam dalam penjara batin itu.

Hancurkan! Bangkit! Lepas dan Bebas!



Bandung 27 Agustus 2017.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terima Kasih “Ibu”

Mamah..             Ibuku adalah seorang perempuan keturunan batak, ia lahir di Medan dan marganya adalah Harahap, seorang wanita yang berjiwa keras namun cerdas. Kulitnya putih, tubuhnya pendek, ia wanita tercantik yang ada di dunia ini. Namanya adalah Yuniarti Harahap, Ia juga merupakan keturunan pahlawan dari ayahnya yang merupakan seorang pahlawan era 80an yang bertugas menjadi TNI AD berpangkat Letnan dan seorang Jaksa di Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Ibuku begitu baik, ia menyayangi orang-orang miskin, dermawan, ramah dan berwawasan luas.             Teruntuk ibu ku, ibu yang mengandung dan melahirkanku.. Telah kau korbankan segala hidup dan matimu hanya demi merawat anak-anakmu. Kau diciptakan dengan segala kemuliaan atas jasamu yang tak akan pernah terbalaskan. Betapa sulitnya menceritakan dirimu yang begitu mulia.       ...

Pesan Singkat Untuk Ayahanda

Namaku Abizar Ghazali Panjinagara, biasa dipanggil Abi, seorang pria berbadan tegap dan berambut ikal. Aku dilahirkan dari pasangan Hendi Dedi dan Yuniarti Harahap. Kini usiaku beranjak dewasa, umurku 18 tahun, salahsatu mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Padjadjaran. Aku gemar berolahraga, menulis dan bermusik. Aku masih sama seperti mahasiswa lainya, yang suka gabut alias gak ada kerjaan di hari libur, yang kerjaanya cuman minta uang ke orangtua untuk have fun, yang bisanya nyusahin orangtua dalam hal apapun. Tapi hari ini, entah kenapa rasanya rindu sekali dengan orangtua di rumah. Teringat dengan senyumanya yang tulus, pepatahnya yang bijak, kasihsayangnya yang abadi dan pengorbanannya yang besar. Tulisan ini aku buat untuk Ayahku tercinta. Seorang pemimpin keluarga yang bijak, sabar dan berwibawa. Ayahku seorang yang sederhana, seorang mantan perwira TNI AD yang gagah, seorang Insinyur perminyakan yang pintar, seorang Pendekar pencak silat yang terkemuka di Jawa Ba...

Keadilan Bagi “Separuh” Rakyat Indonesia

Pemerintah telah mengusahakan berbagai program terkait pemecahan permasalahan kenegaraan yang menyangkut kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah program penertiban kota seperti program penggusuran pedagang kaki lima (PKL). Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pada pelaksanaanya upaya-upaya tersebut belum dapat dirasakan bermanfaat oleh masyarakat yang mengalami hal tersebut. Sungguh menjadi suatu ironi, ketika upaya-upaya tersebut malah menimbulkan berbagai permasalahan baru bagi Negara. Pada fakta seperti ini, kebanyakan masyarakat yang mengalami penggusuran cenderung memilih untuk diam karena kebanyakan dari mereka berfikir bahwa pemerintah adalah penguasa yang “mutlak” dan tidak pernah mau untuk mendengar apalagi memperhatikan latar belakang keadaan mereka. Dasar Negara kita adalah Pancasila, dimana Pancasila dimaknai sebagai pedoman dalam hidup berkewarganegaraan. Artinya, segala tingkah laku kita sebagai warga negara haruslah sesuai dengan nilai-nilai pancasila....