Beribu cara ku
sampaikan tentang rasa ku untuk mu,
Tetesan air mata jadi
saksi cerita dalam hati ini,
Bagaimana rasa yang
tulus ini ada untuk mu,
Tak cukup rasa yang
dikemas dalam kata ini untuk menggambarkan betapa aku mencintaimu,
Berbagai cara telah
ku lakukan untuk dapatkan kamu,
Lika-liku hubungan
adalah suatu kelengkapan dalam mencapai harmoni cinta..
Yang aku inginkan kau dapat menerima kekuranganku,
Kau terima
kesalahanku,
Kau terima
argumentasi hati pada kronologi keinginan menjadi lebih baik untuk mu,
Kau rangkul dan kau
penjarakan sikap ku yang keliru..
Betapa acuhnya engkau
saat ini,
Anggap air mata ku
sebagai lelucon?
Anggap aku adalah
bangkai dan sampah yang berlalu?
Acuhkan aku bagai
angin yang berlalu?
Dimana hati nurani
mu?
Dimana janji yang
telah kita sepakati selama ini?
Ku coba jujur untuk
upayakan kebaikan pada mu,
karena aku tahu, kamu
adalah bagian dari masa depanku.
Bodohnya jiwa ini
yang memaksakan kehendak,
Betapa berat sesak
yang ku rasakan, sungguh jatuh dalam dimensi kesedihan.
Kau pikir engkau siapa?
Sebisa itu membeli
hati ini,
Kau itu siapa?
Seakan malaikat yang
sempurna tanpa kesalahan,
Kau rasa kau yang
paling benar?
Seakan-akan tak ada
kebijakan dalam hati mu,
Sudah merasa bahagia?
Ku rasa kau harus
berfikir ulang Nak!
Ah! ku pikir ini tak perlu mengutamakan logika,
Tak pedulikan
seberapa ku jatuhkan harga diri ku didepan mu,
Yang terpenting
adalah aku inginkan kamu,
Untuk belajar bersama
tentang arti "menyakiti dan disakiti", "membahagiakan dan
dibahagiakan",
Dan untuk saling
mengerti dan melengkapi kekurangan..
Andaikan ada mesin
pendeteksi rasa,
Ku harap itu jadi
bukti di pengadilan hati,
Akan ku gugat rasa
ini kepada mu,
Atas engkau yang
begitu ku idam-idamkan.
Namun, aku juga
lelaki.
Punya rasa dan punya
hati,
Punya nurani dan
harga diri,
Takan ku jilat kembali
ludah yang telah ku buang,
Pertanda pintu hati
telah tertutup.
Aku juga lelaki,
Tak pantas kau
tertawakan,
Karna aku pemimpin.
Jika ingin pergi,
silahkan pergi,
Katakan kau benci.
Agar aku dapatkan
kepastian hidup.
Tuk jalani semua
tanpa cahaya yang redup.
Aku juga lelaki,
Selamat tinggal
engkau yang ku sesali selama ini!
Takan pernah aku
kembali,
Doaku yang semula :
“Semoga kita dipertemukan kembali”
Kini berubah menjadi :
“Jangan pernah kita
dipertemukan lagi”
Karena aku, ingin
carikan bidadari yang dapat mengerti air mata ini.
Mungkin waktu adalah
hakim terbaik bagi hancurnya hati.
Komentar
Posting Komentar